*pigura kosongan

semuanya tentang ia; mereka

thecrystalpalace:

STUDENTS OF LENINGRAD BALLET ACADEMY IN THE BACKSTAGE, 1989

thecrystalpalace:

STUDENTS OF LENINGRAD BALLET ACADEMY IN THE BACKSTAGE, 1989

(via rockienolan)

artchipel:

Graham Franciose - Best Friends. Ink and acrylic on coffee stained paper

artchipel:

Graham Franciose - Best Friends. Ink and acrylic on coffee stained paper

(Source: artchipel, via rockienolan)

this is why i really love iceland. can you see the elves hiding somewhere there? :)
ahah :’)

“All the world will be your enemy, Prince with a Thousand Enemies, and when they catch you, they will kill you… but first they must catch you.”

—   Watership Down

“melancholic-phlegmatic”

“you don’t love someone because they’re perfect, you love them in spite of the fact that they’re not.”

“Memang ada orang-orang di dunia ini yang seperti itu, baik orang dewasa maupun anak-anak. Saat kau sudah sedikit besar, kau pasti bisa membedakan emas dan kuningan.”

—   Anne Blythe, kepada Nan Blythe (Anne of Ingleside)

“What value will there ever be in life, if we are not together?”

—   Becoming Jane

“even a palace can be a prison”

—   the young victoria

“like the endometrium eroded by the syncytiotrophoblast, sacrificing itself just to accept the new life; a sweet sacrifice”

—   randomthought

“Some people care too much, I think it’s called love.”

—   Winnie the Pooh

dandelion

jalanan berkelok, dan ya, pohon birch berdiri kokoh di pinggir jalan setapak seperti menunggu datangnya cahaya emas. sore yang pulas, dioleskan cat jingga kemerahan di bentangan langit, mengiringi burung-burung jay kembali ke rumahnya yang membawa beberapa cacing sekaligus untuk makan malam. deburan angin serasa membawa embun sore turun dari langit, dingin, pun sejuk. senja, kala di mana pergantian dari maraknya hangat sinaran matahari menjadi kembali berselimut biru tua dengan motif polkadot putih bersinar terang. senja turun, jingga datang. sajak seperti peran ratu kerajaan yang ada di tengah peperangan, memperindah jalan cerita, walau hanya berperan sebentar, namun membawa kedamaian.

hari itu ia terus berjalan menyusuri jalan setapak. ingin melihat sinar dari mercusuar yang menjulang tinggi di atas karang hempasan ombak. tidak seperti biasanya ia keluar rumah sendirian, hanya demi rasa penasaran yang selalu menyelubungi pikirannya. mulai dari ladang gandum, ladang jadung, dataran rerumputan luas, pekarangan bunga poinsettia, dan danau berbuih kering telah ia lalui. hanya berbekal satu botol minum, ia terus melangkahkan sepatu bututnya. lelah, iya. berhenti sejenak dibawah pohon, namun malam semakin mengejar. senja segera berakhir, jingga segera naik.

memandang sekitar, dan menyana. dunia memang luas. dan ia hanya ranting kecil di antara ribuan cabang yang besar. membuka botol, dan meminum seteguk air. ia perhatikan kakinya, terasa perih. tapi masih jauh. sinar mercusuar pun belum sempat terlihat. mungkin tertutupi pohon-pohon birch yang menjulang tinggi, pikirnya. dan langitpun segera membuka panggung baru, dengan berbagai pemain pengganti. muncul dengan malu dibalik tirai biru tua, sang bulan berusaha menghempaskan sinarnya. dipadukan dengan angin dari timur, serasa menghantam wajah ia. diperingatkan, segera kembali saja. tapi penasaran mengalahkan segalanya.

senja naik. malam turun. dan ia takut. walaupun begitu, setengah jalan sudah terlewati. bukan perhentian yang sia-sia, namun bukan juga hal yang mudah. kembali ke rumah sudah menjadi opsi dialog halaman sebelumnya. yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu, atau kembali berjalan, kembali meneruskan halaman. ia putuskan untuk berdiri, dan meneruskan dialog. mengacuhkan kakinya yang sakit, demi sinar mercusuar di bawah tirai biru tua. alangkah indahnya melihat pancaran sinar mercusuar yang menghunus lautan, pikirnya. demi pemikiran, yang terus melahap rasa takutnya secuil demi secuil, bak kucing dengan biskuit kesukaannya.

melangkahkan kaki, berjalan. semakin hangat dirasa, walaupun gemuruh angin tetap menyibak dedaunan yang turut bergulir dari atas ke tanah. tetap berjalan, dan akhirnya mulai terlihat pondasi mercusuar yang ia inginkan. beralur tanah tebing karam, menyeruak harum garam lautan. bulan terang, bintang berujar. pohon demi pohon terbuka jelas, terlihatlah mercusuar dari bawah sampai atas. ya, mercusuar besar menginjakkan kakinya kokoh ke dalam tebing, terbalutkan tanaman jalar hijau tua layaknya untaian permata dari tokoh kerang yang terkenal sedunia.

namun di mana sinarnya? di mana? ia berlari mengelilingi mercusuar, berharap memang ia yang salah melihat. berharap ia melihat mercusuar dari sisi yang salah. pikiran ia, bahwa ia akan melihat indahnya kilatan sinar mercusuar yang menusuk lautan di bawah tirai biru tua. namun apa yang ia lihat sekarang, hanyalah hal yang mengecawakan. berulah, serasa terbohongi oleh apa yang ada dari dalam diri ia sendiri. duduk di atas karang, menutup mata dan terhempas. gemuruh sesak, dan sakit.

andaikan rasa penasaran ia tidak menuntunnya sampai sejauh ini. bukan sesal, namun sesak. walaupun malam datang, setidaknya pasti ada senja yang mendahuluinya.

malam naik, embun turun. peran sang ratu telah tergantikan, tinggal para serdadu yang masih hidup setelah peperangan. pohon-pohon birch berdesis, mengepakkan ranting kecil. pertunjukkan telah usai, namun setidaknya akan ada rantai lanjutan. sepertinya.

such a fucking liar uttering fucking lies; so fucking fake

“there there baby, it’s just textbook stuff; it’s in the A-B-C of growing up”

—   Imogen Heap